Di sebuah desa tersembunyi di balik kabut gunung, hiduplah seorang pria tua bernama Kala. Ia adalah seorang sesepuh yang dihormati, bukan karena kekayaannya, melainkan karena ingatannya yang seluas samudra. Kala sering duduk di beranda rumah kayunya, menatap lembah hijau yang menyimpan seribu rahasia masa lalu.
Suatu sore, cucunya yang bernama Baskara datang mendekat. Baskara selalu haus akan cerita, dan ia tahu bahwa kakeknya adalah perpustakaan berjalan. "Kek, ceritakan tentang masa sebelum segalanya berubah," pinta Baskara sambil duduk bersila di lantai kayu yang mulai menua.
Kala mulai bercerita tentang kedatangan kapal-kapal besar milik 'Kompeni'. Kapal-kapal itu membawa orang-orang asing dengan pakaian kaku dan mata yang penuh dengan perhitungan. Mereka tidak datang untuk berteman, melainkan untuk mengambil apa yang bukan milik mereka dengan cara yang halus namun mematikan.
Kompeni itu cerdik, mereka tidak hanya menjajah tanah, tapi juga menjajah pikiran. Mereka mulai mengubah buku-buku sejarah di sekolah-sekolah. Cerita tentang keberanian leluhur dihapus, digantikan dengan narasi bahwa penduduk asli adalah bangsa yang lemah yang butuh diselamatkan oleh mereka.
Untuk memperkuat cengkeraman mereka, Kompeni merangkul orang-orang dari bangsa sendiri yang haus akan jabatan. Salah satunya adalah Sura, seorang pria yang rela membungkuk demi kepingan perak. Kompeni memberikan Sura gelar-gelar megah yang palsu agar rakyat tunduk kepadanya.
"Mereka ingin kita lupa siapa kita sebenarnya," bisik Kala dengan suara berat. Sura dan para penjilat lainnya bangga dengan gelar pemberian penjajah itu, sementara sejarah asli negerinya perlahan-lahan terkubur di bawah tumpukan kertas laporan Kompeni yang penuh kebohongan.
Namun, Kala tidak membiarkan api itu padam. Ia mengajak Baskara ke sebuah sudut gelap di rumahnya dan membuka sebuah peti tua. Di dalamnya terdapat gulungan-gulungan naskah asli yang ditulis dengan tinta alami yang tidak akan luntur oleh waktu, berisi catatan sejarah yang sesungguhnya.
"Kebenaran adalah seperti akar pohon jati, Baskara," ujar Kala sambil mengelus permukaan kertas itu. "Meskipun batangnya ditebang dan dibakar, akarnya tetap tersimpan di dalam tanah, menunggu waktu yang tepat untuk menumbuhkan tunas baru yang lebih kuat."
Kala menatap Baskara dengan penuh harap. Ia percaya bahwa suatu saat nanti, keturunan asli yang memiliki kejujuran di hatinya akan bangkit. Mereka akan membongkar manipulasi sejarah itu dan mengembalikan kehormatan bangsa yang sempat dicuri oleh para penjilat dan penjajah.
Matahari mulai tenggelam, namun cahaya di mata Baskara semakin terang. Cerita Kala bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah amanah. Perjuangan untuk kebenaran dan keadilan barulah dimulai, dan sejarah yang asli akan ditulis kembali oleh tangan-tangan yang jujur.