Di bawah atap Rumoh Aceh yang megah, Sultan Ahmad duduk dengan wibawa. Kayu-kayu ulin yang kokoh menjadi saksi saat sang Sultan memanggil empat putranya: Ibrahim, Meurah, Hasyim, dan Umar. "Tanah ini adalah amanah," bisik Sultan. Beliau membagi wilayah kekuasaan agar marwah Aceh tetap terjaga di setiap sudut nanggroe. Ibrahim, sang sulung, menerima tanggung jawab terbesar untuk menjaga gerbang utama dari ancaman luar.
Tak lama berselang, awan hitam menyelimuti langit Aceh. Kapal-kapal penjajah Belanda, yang disebut Kompeni, mulai merapat. Ibrahim memimpin pasukan di garis depan dengan gagah berani. "Mate syahid demi agama dan nanggroe!" serunya. Dalam pertempuran yang sengit di pesisir, Ibrahim gugur sebagai pahlawan, meninggalkan duka yang mendalam bagi seluruh rakyat.
Kepergian Ibrahim meninggalkan luka di hati istrinya, Pocut Malikka. Sesuai adat dan demi menjaga martabat keluarga, Umar, adik Ibrahim, melangkah maju. Ia menikahi Pocut Malikka bukan karena nafsu, melainkan untuk melindungi janda sang pahlawan dan menyatukan kembali kekuatan keluarga yang guncang. Di bawah restu tetua, mereka berjanji akan terus melanjutkan perjuangan Ibrahim.
Namun, badai fitnah menerjang istana. Meurah Pupôk, putra Sultan yang dicintai, dituduh melakukan zina, sebuah dosa besar dalam hukum adat dan agama. Sultan Ahmad berada dalam pilihan yang mustahil: menyelamatkan nyawa putranya atau menegakkan hukum. Meurah Pupôk bersimpuh di kaki ayahnya, menyatakan kesucian dirinya, namun bukti-bukti palsu telah menyudutkannya.
Hukom bak Syiah Kuala, Adat bak Po Teumeureuhom. Sultan Ahmad akhirnya mengambil keputusan pahit demi tegaknya keadilan di tanah Aceh. "Mate aneuk meupat jeurat, mate adat pat tamita," bisiknya pelan—mati anak ada kuburnya, mati adat di mana hendak dicari. Dengan air mata yang disembunyikan, sang Sultan memerintahkan hukuman mati bagi putranya sendiri demi menjaga kesucian hukum nanggroe.
Tahun-tahun berlalu dengan peperangan yang tak kunjung usai. Di Masjid Tuha Indrapuri yang bersejarah, sebuah peristiwa besar terjadi. Seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun, Tuanku Raja Ibrahim, dipersiapkan untuk memikul beban kerajaan. Meskipun masih sangat muda, sorot matanya menunjukkan keberanian seorang raja yang lahir di tengah dentuman meriam.
Di dalam masjid yang sejuk, para ulama dan tetua adat berkumpul. Mereka meletakkan mahkota di kepala kecil Tuanku Raja Ibrahim. Penobatan ini adalah simbol bahwa Aceh tidak akan pernah tunduk pada penjajah, meskipun dipimpin oleh seorang bocah. "Ya Allah, lindungilah raja muda kami," doa para rakyat yang menggema di langit Indrapuri.
Namun, pengkhianatan muncul dari dalam. Daud Syah, yang dikenal sebagai Panglima Polem, mulai goyah. Tergiur oleh janji-janji manis Belanda, ia mulai menjalin komunikasi rahasia dengan musuh. Di kegelapan malam, Daud Syah menatap peta wilayah Aceh, merencanakan langkah yang akan mengubah jalannya sejarah dan melukai hati rakyat yang mempercayainya.
Kerja sama Daud Syah dengan Belanda membuka jalan bagi Kompeni untuk masuk lebih dalam ke jantung pertahanan Aceh. Pasukan Belanda yang dipimpin perwira-perwiranya mulai menduduki benteng-benteng yang sebelumnya tak tertembus. Pengkhianatan ini terasa lebih menyakitkan daripada peluru musuh, karena datang dari saudara sendiri yang sehulu se-hambat.
Akhirnya, masa berganti namun luka tetap ada. Para tetua Aceh duduk di bawah pohon meuligo, merenungkan nasib nanggroe. Mereka melihat perubahan zaman dan berbisik tentang datangnya "Kompeni Baru" yang memakai topeng berbeda. Tuanku Raja Ibrahim, yang kini telah tumbuh, berdiri memandang tanah endatu (leluhur) dengan satu tekad: marwah Aceh tak boleh hilang, meski raga harus terkubur di bumi pertiwi.