Dahulu kala di Kerajaan Aceh Darussalam, hiduplah seorang ulama besar bernama Hamzah Fansuri. Beliau bukan hanya seorang guru yang bijak, tetapi juga penasihat setia bagi Sultan Iskandar Muda yang gagah perkasa. Di wilayah Indrapurwa yang asri, tepatnya di Ujong Pancu, mereka sering duduk bersama mendiskusikan ilmu pengetahuan dan kebaikan bagi rakyat sambil memandang hamparan laut biru.
Kedamaian itu mulai terusik ketika seorang ulama pendatang bernama Nuruddin Ar-Raniry tiba dari Ranir, India. Nuruddin memiliki pemikiran yang sangat berbeda dengan Hamzah Fansuri. Perbedaan pendapat ini lama-kelamaan berubah menjadi perselisihan tajam di dalam istana, karena Nuruddin tidak menyukai pengaruh besar Hamzah di tanah Aceh.
Waktu pun berlalu, dan takhta kerajaan berganti kepada Sultan Iskandar Thani. Nuruddin Ar-Raniry menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Sultan yang baru. Ia menyebarkan fitnah dan tuduhan berat, mengatakan bahwa ajaran-ajaran Hamzah Fansuri adalah sebuah kesesatan yang harus segera dihentikan demi keselamatan kerajaan.
Akhirnya, sebuah keputusan pahit diambil. Hamzah Fansuri dipanggil ke depan Masjid Raya Baiturrahman yang megah untuk mempertanggungjawabkan ajarannya. Di hadapan Sultan Iskandar Thani dan rakyat banyak, sang ulama tetap berdiri dengan tenang dan penuh wibawa. Beliau tidak merasa takut, karena yakin akan kebenaran yang diyakininya.
Namun, tepat setelah pedang itu berayun, terjadilah sebuah keajaiban yang tak masuk akal. Hamzah Fansuri tidak langsung rebah ke tanah. Dengan gerakan yang perlahan dan ajaib, tubuhnya bangkit berdiri. Tangannya meraih ke bawah, lalu dengan tenang memungut kepalanya sendiri yang telah terpisah dari lehernya.
Suasana menjadi sunyi senyap saat Hamzah Fansuri mulai berjalan. Sambil mendekap kepalanya dengan penuh kasih, beliau melangkah meninggalkan halaman masjid. Orang-orang yang berpapasan dengannya di sepanjang jalan menuju pasar menepi dengan penuh rasa takut dan hormat, tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Sang ulama terus berjalan ke arah barat hingga sampai di sebuah pesisir pantai yang tenang. Di sanalah, tenaga beliau akhirnya habis. Di tempat itu, kepalanya benar-benar terlepas dari pelukannya dan jasadnya jatuh ke pasir pantai yang putih. Tempat itu kemudian dinamakan "Ulee Lheu", yang berasal dari kata "Ulee" (Kepala) dan "Lheu" (Lepas).
Para pengikut setianya kemudian membawa jasad sang ulama ke atas bukit di pesisir Ujong Pancu, wilayah Indrapura yang juga dikenal sebagai Lhee Sagoe. Mereka memilih tempat tertinggi agar sang guru bisa terus melihat laut yang selalu beliau cintai semasa hidupnya bersama Sultan Iskandar Muda.
Hingga hari ini, makam Hamzah Fansuri di Ujong Pancu dianggap sebagai tempat yang sangat keramat. Konon, makam tersebut dijaga oleh seekor harimau putih yang besar dan gagah. Harimau itu dipercaya menjaga kedamaian peristirahatan terakhir sang ulama suci yang telah memberikan nama abadi bagi Ulee Lheu.