Aksara adalah anak yang paling suka dengan bau buku tua. Setiap sore, setelah sekolah usai, ia lari cepat-cepat menuju Perpustakaan Kota. Itu adalah tempat paling ajaib di dunia.
Tapi ada satu sudut yang selalu tertutup, tersembunyi di balik tirai beludru merah yang berat. Sudut itu terasa memanggilnya dengan bisikan yang lembut, seperti rahasia yang ingin dibagikan.
"Nenek Wulan," bisik Aksara kepada pustakawati tua yang ramah. Nenek Wulan sedang menyusun buku-buku di meja dengan gerakan yang pelan dan hati-hati. "Apa yang ada di balik tirai itu?"
Nenek Wulan berhenti menyusun buku. Ia tersenyum dan menunjukkan kunci perak kecil yang berkilauan di telapak tangannya. "Hanya untuk anak yang benar-benar siap. Hari ini adalah harimu, Aksara."
Dengan jantung berdebar kencang seperti drum kecil, Aksara perlahan membuka tirai itu. Di dalamnya, hanya ada satu rak, dan di rak itu, hanya ada satu buku, seperti menunggu seseorang.
Buku itu bersampul kulit tua berwarna cokelat dengan hiasan emas yang samar. Tetapi anehnya, saat dibuka, semua halamannya kosong, putih bersih, seperti salju.
Aksara menyentuh halaman kosong itu dengan ujung jarinya. Tiba-tiba, ada kilauan debu emas, dan satu kata muncul dan bersinar di halaman: "Berani."
Begitu Aksara memikirkan apa arti 'Berani', kata itu menjadi sebuah gambar! Gambar tentang seekor kelinci kecil yang berani menyeberangi sungai yang berarus deras dengan melompat dari batu ke batu.
Nenek Wulan muncul dari balik tirai, matanya berbinar penuh rahasia. "Itu Buku Imajinasi. Dia tidak berisi cerita, tapi menunggu cerita dari hatimu, Aksara," jelasnya lembut.
Mulai hari itu, Aksara tahu ia tidak hanya membaca cerita. Ia adalah penulis rahasia perpustakaan. Setiap kata yang ia pikirkan adalah keajaiban yang menciptakan petualangan baru di halaman-halaman kosong.