Rendra adalah anak laki-laki yang punya mimpi besar. Setiap melihat tayangan orang beribadah Umrah di Mekah, hatinya berbisik, "Suatu hari nanti, aku akan ke sana!"
"Ayah, Ibu," kata Rendra suatu malam, matanya bersinar. "Aku ingin kita sekeluarga pergi Umrah. Aku yang akan bayar!" Ayah Taufik dan Ibu Aisyah tersenyum hangat.
Ibu Aisyah membelai rambut Rendra. "Itu mimpi yang indah, Sayang. Tapi perjalanan Umrah butuh uang yang sangat, sangat banyak." Rendra terdiam sebentar, lalu menjawab, "Aku akan menabung setiap hari!"
Sejak hari itu, Rendra punya misi rahasia. Celengan Ka'bah kecilnya menjadi kotak harta karun. Ia mulai menyisihkan uang jajan, bahkan menahan diri membeli es krim kesukaan.
Rendra juga mencari cara lain. Ia menawarkan diri membantu Pak RT menyiram tanaman setiap sore. Kadang, ia membantu Ibu Aisyah melipat baju, dan mendapatkan upah kecil darinya.
Setelah tiga bulan, Rendra membuka celengannya. Koin-koin berhamburan. Ayah Taufik membantunya menghitung. "Wah, banyak, Nak! Ada Rp250.000!" seru Ayah.
Tapi saat melihat brosur Umrah, Rendra sedih. Uang yang ia kumpulkan masih seperti setetes air di lautan. Ia meletakkan kepalanya di atas tumpukan uang koin. "Masih jauh sekali," bisiknya.
Ibu Aisyah datang dan memeluknya. "Rendra, perjalanan yang jauh dimulai dari satu langkah kecil. Ayah dan Ibu bangga sekali dengan usaha dan ketulusanmu."
Lalu, Ayah Taufik mengambil sebuah buku tabungan baru. "Lihat ini, Nak. Ayah dan Ibu ikut menabung di buku ini, karena melihat semangatmu. Kami menambahkan setiap kali kamu menabung."
"Tabungan kita bersama sudah cukup untuk membayar uang muka keberangkatan! Kita akan terus menabung, bersama-sama. Impianmu menjadi penyemangat kita, Nak!" Rendra memeluk kedua orang tuanya. Mimpi itu kini terasa sangat dekat.