Abad ke-17, Kerajaan Aceh Darussalam bersinar di puncak kejayaannya. Di balkon istana yang megah, Sultan Iskandar Muda berdiri tegak memandang riak gelombang di Selat Malaka. Ia melihat bayangan kapal-kapal asing yang mengancam kedaulatan negerinya. Dengan suara lantang yang menggetarkan udara, ia menitahkan rakyatnya untuk membangun armada perang raksasa guna mengusir penjajah Portugis dari tanah air.
Semangat perjuangan menyambar ke seluruh pelosok negeri. Sebanyak sembilan ratus lima puluh tukang kayu terbaik berkumpul, mengasah kapak dan menyiapkan pasak. Dalam waktu tujuh belas bulan, seribu kapal perang siap berlayar. Di antara kerumunan kapal itu, terdapat bantuan kapal perkasa dari sekutu setia, Raja Raden dari Banang, yang menambah kekuatan armada Aceh.
Namun, sebuah keajaiban muncul di tepi pantai Kuta Malaka. Batang kayu raksasa sepanjang tujuh puluh delapan meter terdampar secara misterius. Permukaannya aneh, bersisik seperti kulit naga dan ukurannya sebesar bukit kecil. Kabarnya, kayu raksasa ini hanyut dari tanah Johor, melintasi samudera luas seolah-olah memiliki nyawa dan tujuannya sendiri.
Sultan Iskandar Muda mendekati kayu tua itu dengan langkah tenang. Saat telapak tangannya menyentuh permukaan kayu yang kasar, sebuah getaran magis merambat dari kayu ke jantungnya. Seolah-olah kayu itu berbisik, memohon agar diubah menjadi kapal perang Aceh yang tangguh. Kayu itu ingin menjadi saksi bisu atas takluknya musuh-musuh kerajaan di tengah laut lepas.
Kayu Johor itu pun ditempa menjadi mahakarya yang tak tertandingi: Cakra Donya. Kapal raksasa ini dihiasi dengan tiga genta suci yang berdentang merdu namun perkasa: Akidatoi Umu, Tulak Mara, dan Kasira Khairan. Namanya berarti 'Sang Penggenggam Dunia', sebuah benteng terapung yang siap menggetarkan nyali siapa pun yang berani mengusik kedamaian Aceh.
Waktunya tiba untuk meluncurkan kapal ke pelukan samudera. Ribuan orang menarik tali tambang yang tebal, otot mereka menegang dan keringat bercucuran di bawah terik matahari. Namun, Cakra Donya tak bergeming sedikit pun. Kapal raksasa itu seolah-olah terikat erat pada daratan, menolak untuk bergerak meski ditarik oleh ribuan tenaga manusia.
Sultan Iskandar Muda melangkah maju ke arah haluan kapal. Dengan penuh khidmat, ia mengusap badan kapal dan melantunkan doa tulus kepada Sang Pencipta. Seketika, terdengar dentuman dahsyat yang membelah keheningan! Cakra Donya tiba-tiba meluncur mulus membelah air, menyambut ombak Selat Malaka dengan keagungan yang luar biasa.
Di atas geladak yang luas, Putroe Phang yang anggun memberikan nasihat strategis kepada Sang Sultan. Ia mengingatkan tentang ganasnya arus di Selat Malaka dan sebuah larangan kuno yang sakral: jangan pernah membunyikan meriam saat melintasi Laut Banang. Kebijaksanaan dan firasat sang putri menjadi kompas moral bagi seluruh awak kapal yang akan bertempur.
Perang pecah di Laut Banang dengan sangat hebat! Laksamana Malem Dagang memimpin armada dengan gagah berani dari atas Cakra Donya. Kapal raksasa itu membelah ombak dan meriam-meriamnya menghancurkan pertahanan pasukan Si Ujut serta armada Portugis. Kekuatan Cakra Donya tak terbendung, membuat laut seolah-olah tunduk pada kehendak sang penguasa Aceh.
Bertahun-tahun kemudian, kisah heroik ini terus hidup di hati rakyat. Nek Wan membacakan legenda ini kepada cucunya, Zaki, di teras rumah mereka. Dunia mengenal kapal itu sebagai 'Espanto Del Mundo' atau Teror Dunia. Cakra Donya bukan sekadar kapal kayu, melainkan simbol kejayaan dan keberanian abadi bangsa Aceh yang takkan pernah padam oleh waktu.